Tentang Pemberdayaan Masyarakat (2)

Salah satu contoh program pembangunan masyarakat yang berbasis pemberdayaan yang menarik diamati adalah Program Pengembangan Kecamatan (PPK). PPK diluncurkan oleh pemerintah tahun 1998 setelah program pemberdayaan sejenis seperti pada program pemberdayaan  MH Thamrin di Jakarta dan KIP Komprehensip di Surabaya dianggap berhasil. Skema program ini banyak diantaranya mengadopsi  pola kedua program tersebut di atas. Bersamaan dengan itu pula bermunculan program-program pembangunan sejenis yang berbasis  pemberdayaan seperti halnya; program Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), program Inpres Desa Tertinggal (IDT), program Kredit Usaha Tani (KUT) dan sejenisnya. 

PPK sebagai salah satu bentuk program pemberdayaan masyarakat yang berkembang di Indonesia telah memberi banyak manfaat bagi masyarakat di Indonesia. Sekalipun demikian program ini –yang mendapat bantuan dari Bank Dunia (World Bank), dalam beberapa hal mungkin kurang efisien dan masih ada beberapa kekeurangan dalam pelaksanaannya.  Survey yang dilakukan oleh Menayang dkk (2001) di 6 (enam) propinsi yang telah melaksanakan PPK menunjukkan adanya kelemahan-kelemahan, baik itu dari segi manajemen pelaksanaan,  kesiapan masyarakatnya dan lebih-lebih  proses sosialisasinya.

Demikian juga penelitian yang pernah dilakukan Widodo dkk (2003) di 4 (empat) propinsi,  juga membuktikan bahwa masyarakat tidak memiliki kecukupan informasi tentang PPK dan masih memahami program ini sebagai program bantuan murni (grand). Padahal program tersebut adalah program bantuan yang bersifat pinjaman yang mementingkan aspek pemberdayaan.

Dari sejumlah permasalahan yang menghambat kelancaran pelaksanaan program tersebut, kiranya proses sosialisasi  adalah yang perlu mendapatkan perhatian utama diawal-awal program sebelum dijalankan. Hal ini menjadi penting karena ketidak lancaran pelaksanaan program tersebut sementara ini banyak diakibatkan oleh proses sosialisasi yang seringkali dijalankan secara sepihak oleh para perencana program pemberdayaan masyarakat.  Model  dilakukan bersifat searah (one way communication) dan instruktif.   (lagi…)

Pemberdayaan masyarakat seringkali diidentikkan dengan istilah pengembangan masyarakat (community development). Program pemberdayaan masyarakat juga sering pula diartikan sebagai program pendampingan masyarakat. Tidak jarang, ketiga istilah ini digunakan secara tumpang tindih. Walaupun sebenarnya ketiga istilah tersebut mempunyai kepentingan penekanan program yang berbeda, namun dalam kegiatan praktis pemberdayaan masyarakat, pengembangan masyarakat dan pendampingan masyarakat kadang diartikan sama.

Mengapa Sering Gagal?
Program pemberdayaan masyarakat dapat dikatakan berhasil apabila masyarakat secara sukarela dan sadar melibatkan diri dalam kegiatan program tersebut. Sayangnya, sosialisasi dan desiminasi informasi yang menjadi kunci dalam penyadaran dan ajakan kepada masyarakat untuk terlibat dalam program tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ada banyak hal yang menyebabkan kegagalan proses pembangunan  berbasis pemberdayaan. Salah satu sebab penting  yang menjadi sumber kegagalan dalam program pemberdayaan masyarakat adalah kurang mengakarnya program komunikasi, yang juga sering disebut sebagai proses sosialisasi atau desiminasi informasi.

Antara Sosialisasi dan Diseminasi
Sosialisasi menjadi penting karena dalam pengertian luas sosialisasi dapat diartikan sebagai  komunikasi pengetahuan dan pembentukan nilai-nilai pendidikan (Brim, 1983 : 1).  Sifat sosialisasi dalam pengertian ini lebih mengedepankan pada proses pembelajaran atau pembudayaan. Dapat diyakini, bila dalam proses sosialisasi terjadi distorsi informasi, maka untuk meluruskan kembali informasi yang seharusnya disampaikan pada kelompok sasaran akan mengalami kesulitan. Hal ini terjadi karena sifat masyarakat kebanyakan lebih memperhatikan pada isi  informasi itu pada awal-awal penyampaiannya. (lagi…)

Yayasan Graha Pamulang (GALANG) merupakan sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di dalam bidang penguatan dan pemberdayaan masyarakat (community development). GALANG didirikan di kota Malang Jawa Timur tanggal 10 April 1999 oleh beberapa aktivis yang peduli dan memiliki komitmen terhadap penyelesaian masalah sosial dan kemanusiaan berkaitan dengan pembangunan. Untuk memudahkan koordinasi antar aktivis dan pelaksanaan kegiatan lembaga, dikembangkan pula perwakilan Yayasan GALANG di beberapa tempat, yakni  kota Surabaya, Mojokerto, Kediri, Madiun dan Gresik. Kontak di email grahapamulang@gmail.com atau myhafaz@yahoo.com