Pemberdayaan masyarakat seringkali diidentikkan dengan istilah pengembangan masyarakat (community development). Program pemberdayaan masyarakat juga sering pula diartikan sebagai program pendampingan masyarakat. Tidak jarang, ketiga istilah ini digunakan secara tumpang tindih. Walaupun sebenarnya ketiga istilah tersebut mempunyai kepentingan penekanan program yang berbeda, namun dalam kegiatan praktis pemberdayaan masyarakat, pengembangan masyarakat dan pendampingan masyarakat kadang diartikan sama.
Mengapa Sering Gagal?
Program pemberdayaan masyarakat dapat dikatakan berhasil apabila masyarakat secara sukarela dan sadar melibatkan diri dalam kegiatan program tersebut. Sayangnya, sosialisasi dan desiminasi informasi yang menjadi kunci dalam penyadaran dan ajakan kepada masyarakat untuk terlibat dalam program tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ada banyak hal yang menyebabkan kegagalan proses pembangunan berbasis pemberdayaan. Salah satu sebab penting yang menjadi sumber kegagalan dalam program pemberdayaan masyarakat adalah kurang mengakarnya program komunikasi, yang juga sering disebut sebagai proses sosialisasi atau desiminasi informasi.
Antara Sosialisasi dan Diseminasi
Sosialisasi menjadi penting karena dalam pengertian luas sosialisasi dapat diartikan sebagai komunikasi pengetahuan dan pembentukan nilai-nilai pendidikan (Brim, 1983 : 1). Sifat sosialisasi dalam pengertian ini lebih mengedepankan pada proses pembelajaran atau pembudayaan. Dapat diyakini, bila dalam proses sosialisasi terjadi distorsi informasi, maka untuk meluruskan kembali informasi yang seharusnya disampaikan pada kelompok sasaran akan mengalami kesulitan. Hal ini terjadi karena sifat masyarakat kebanyakan lebih memperhatikan pada isi informasi itu pada awal-awal penyampaiannya.
Sementara itu menurut Gonzales, desiminasi informasi berarti proses penyebaran informasi – dalam hal ini sifatnya komunikasi interaktif dua arah (Jahi, 1993 : 76). Komunikasi tidak bersifat instruktif, namun penerima informasi (atau lazim disebut komunikan dalam ranah komunikasi) juga mempunyai kesempatan yang sama untuk merespon informasi tersebut secara timbal-balik. Namun, jangan dibayangkan bahwa komunikasi dua arah selalu mempunyai kekuatan yang sebanding, karena tidak jarang komunikasi bentuk ini seringkali lebih banyak terjadi dimana satu pihak dominan memberikan informasi sedang pihak lain cenderung hanya menerima informasi.
Perlu Timbal Balik
Proses sosialisasi dan desiminasi yang selayaknya menggambarkan pengaruh timbal-balik antara pelbagai kehidupan bersama seringkali dijalankan secara sepihak oleh para perencana program pemberdayaan masyarakat, dan kadang-kadang kurang memperhatikan kondisi masyarakat sasaran dan konteks sistem informasi, struktur sosial dan institusi lokal yang hidup pada masyarakat setempat. Aspek-aspek yang berkaitan dengan jaringan sistem informasi dalam masyarakat seperti; tokoh (opinion leader) sebagai sumber informasi, bahasa daerah / lokal, forum pertemuan adat, keberadaan lembaga lokal dan sejenisnnya yang berfungsi sebagai media tradisional, dan beberapa hal lainnya tidak diperhatikan. Keberadaan struktur masyarakat, bahkan sangat kurang diperhatikan, padahal struktur masyarakat dapat dipakai sebagai pertimbangan langkah awal memulai proses sosialisasi.
Pada tipe masyarakat tertentu, sosialisasi akan lebih efektif apabila dilakukan pada kelompok sasaran masyarakat kelas tertentu karena alasan kelas tersebut adalah kelas masyarakat yang kredibilitasnya terpercaya dimata masyarakat di lingkungannya. Demikian pula perhatian terhadap institusi lokal baik yang bersifat formal seperti; hukum atau aturan warga dan yang bersifat informal seperti nilai-nilai, norma-norma, kebiasaan dan adat seringkali diabaikan.
[achmad gunawan, email: gunachmad@yahoo.co.id]
Februari 21, 2009 at 10:34 am
salam perkenalan
wah bagus sekali postingnya
numpang baca-baca
tks ya